Blog Section

Prosedur Pemasangan Behel / Kawat Gigi

Prosedur Pemasangan Behel / Kawat Gigi

Prosedur pemasangan behel/ kawat gigi

Pemasangan behel atau kawat gigi merupakan suatu prosedur yang memerlukan ketelitian, skill, dan berbagai ilmu yang diperlukan oleh dokter gigi spesialis orto (Ortodontist) sebagai pertimbangan dalam melakukan perawatan. Prosedur ini tidak semata-mata hanya ‘menempelkan’ sebuah lempengan besi kecil pada permukaan gigi pasien.

 

Mungkin anda bertanya-tanya, bagaimana sebaiknya prosedur perawatan behel/ kawat gigi/ ortodonti yang benar?

    1. konsultasi dengan dokter gigiPertama-tama pada saat pasien datang, seorang orthodontist akan menanyakan keluhan utama (chief complaint ) dari pasien. Hal ini akan menjadi pertimbangan utama bagi seorang orthodontist untuk dapat memberikan hasil perawatan yang memuaskan keinginan pasien. Di lain pihak, dari keluhan utama pasien tersebut seorang orthodontist juga dapat memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada pasien, apabila hasil yang diinginkan pasien tidak mungkin dapat dicapai hanya dari perawatan ortodonti semata, tetapi juga perlu dibantu dengan perawatan yang lain. Selain itu pasien juga akan ditanyakan mengenai riwayat kesehatan umum dan gigi serta kemungkinan adanya kebiasaan buruk tertentu yang mempengaruhi keadaan gigi dan mulut pasien.
    2. cek gigiOrthodontist juga akan memeriksa keadaan gigi dan mulut pasien (intra-oral) untuk mengetahui apakah ada karang gigi yang perlu dibersihkan, ataukah gigi yang perlu ditambal dan dirawat.
    3. Akan dilakukan foto ekstraoral dan intraoral pada pasien dari berbagai sisi, sebagai medical record dan sarana perbandingan sebelum dan setelah perawatan ortodonti dilakukan
      FOTO INTRAORAL

      FOTO EXTRAORAL

    4. Gigi geligi pasien akan dicetak menggunakan alginate untuk mendapatkan model studi. Model studi adalah salah satu sarana untuk mendapatkan diagnosis yang baik serta rencana perawatan yang tepat untuk pasien, juga untuk menghitung ruangan yang diperlukan untuk mendapatkan posisi gigi dalam lengkung yang benar. Selain itu studi model juga digunakan sebagai sarana dalam menjelaskan perawatan yang akan dijalankan orthodontist kepada pasien, dan berguna sebagai record untuk melihat perkembangan perawatan pasien sebelum dan setelah perawatan ortodonti selesai.Prosedur pencetakan untuk mendapatkan model studi
      image026Model studi pasien untuk rahang atas dan rahang bawah
      image027 image029
    5. Setelah itu akan dilakukan foto rontgen panoramic dan sefalometri pada pasien
      • Rontgen panoramic bertujuan untuk melihat keadaan gigi geligi dan jaringan tulang pendukung yang tidak dapat terlihat pada saat pemeriksaan intra-oral. Selain itu dapat juga untuk melihat ada tidaknya benih gigi, sisa akar, kemiringan posisi gigi, kemungkinan keadaan patologis di tulang pasien, dan hal-hal lain yang tidak dapat terlihat hanya dengan pemeriksaan intraoralGambaran foto panoramic
        image032

 

      • Rontgen sefalometri digunakan oleh ortodontis untuk dianalisa lebih lanjut untuk salah satunya, melihat relasi tulang rahang atas dan bawah terhadap basis tengkorak pasien, melihat posisi dan angulasi (derajat kemiringan) gigi pasien terhadap rahang. hal ini sangat penting agar ortodontis dapat menegakkan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat.Gambaran foto sefalometri sebelum dilakukan analisa
        image033
        Gambaran foto sefalometri setelah dilakukan analisa
        image035 image037 image039

 

Dari gambaran sefalometri yang telah dilakukan, ortodontis akan mendapat beberapa nilai yang menunjukkan posisi dan angulasi dari tulang dan gigi pasien. Hal ini akan membantu orthodontist dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan pasien. Tanpa adanya analisa sefalometri ini, perawatan ortodonti yang dilakukan hanya seperti’ meraba-raba dalam kegelapan’, tanpa mengetahui posisi gigi geligi dan tulang pasien yang sebenarnya.

Pasien X

male; age: 20

Steiner Analysis

Variable Description Before tx Norm
SNA 87.7° 80.0° – 84.0°
SNB 81.5° 78.0° – 82.0°
ANB 6.2° 2.0°
ii Interincisal angle 90.6° 131.0°
SND 79.3° 76.0°
1u-NA Angle of axis of 1u to NA 37.5° 22.0°
1u-SN Angle of axis of 1u to SN 125.2° 108.0°
OcP-SN Angle of anterior cranial base to occlusal plane 3.2° 14.0°
Go-Gn Angle of anterior cranial base to mandibular plane 29.4° 32.0°
1l-NB Angle of axis of 1l to NB 45.7° 25.0°
1l-NB Distance of labial outline of 1l-NB 24.99mm 4.00mm
1u-NA Distance of labial outline of 1u-NA 19.15mm 4.00mm
Pog-NB Distance of Pogonion to N-B 2.77mm n/a
SL 105.11mm 51.00mm
SE 40.36mm 22.00mm

 

Rikkets Analysis

Variable Description Before tx Norm
N-Ba|Pt-Gn Facial axis 91.8° 86.5° – 93.5°
N-Pog|FH Facial angle 83.2° 84.0° – 90.0°
1l|A-Pog1l|A-Pog 40.1° 18.0° – 26.0°
Sna-Xi-PM 40.8° 41.0° – 49.0°
PM-Xi|Xi-DC 36.3° 22.0° – 30.0°
MeGo | NPog 66.5° 64.0° – 72.0°
A-NPog N-Pog in 9 years old=2,0 mm then -1 mm every 5 years (high values suggest skeletal form of the distal occlusion; negative values suggest skeletal form of the mesial occlusion) 12.34mm -3.00 – 1.00mm
Is1l|A-Pog Incisal edge of lower incisor against A-Pog 19.60mm -1.00 – 3.00mm
A6|PtV Superior molar relative to PtV. Average length = age + 3 mm, after 18 years old length = 21 mm 21.23mm 18.00 – 24.00mm
Is1u|A-Pog Incisal edge of upper incisor against A-Pog 27.62mm 2.50mm
Distance of lower lip to esthetic line -7.74mm -6.00 – -2.00mm

 

    1. Setelah berbagai prosedur di atas telah dilakukan, maka orthodontist telah siap untuk menjelaskan rencana perawatan dan pemasangan behel dapat dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *