All Posts tagged kelainan

Power Chain Di Seluruh Gigi? Yes Or No?

Power Chain Di Seluruh Gigi? Yes Or No?

“Dok, saya boleh pakai karet yang nyambung (power chain) ga? Saya bosan pakai karet yang satuan (O-ring)”

Pertanyaan atau permintaan semacam ini seringkali dilontarkan pasien pemakai behel kepada dokter spesialis ortodonti/ orthodontist bersangkutan yang merawat. Dapat dimaklumi karena selain ingin giginya rapi dengan memakai behel, pasien juga ingin terlihat trendi saat memakai behel dengan pemakaian karet berwarna. Namun benarkah pasien boleh memilih sesuka hati jenis karet yang dipasang pada behelnya?

Perlu diketahui bahwa o-ring atau powerchain bukanlah sekedar ‘alat’ untuk mempercantik tampilan behel, namun keduanya memiliki fungsi sendiri-sendiri, dan harus dipakai sesuai dengan mempertimbangkan pergerakkan gigi yang diinginkan

Apa sih sebenarnya bahaya pemakaian power chain yang tidak semestinya?

Power chain adalah suatu material berbahan dasar karet elastis berfungsi untuk menahan kawat/archwire di dalam slot bracket/ behel dan untuk menggerakkan gigi atau menutup ruangan yang ada di dalam lengkung gigi. Berbeda dengan karet o-ring yang bersifat pasif atau hanya menahan kawat pada slot bracket, power chain memiliki kekuatan tarikan bila diregangkan sehingga dapat menggerakkan gigi.

Bergantung pada jenis fase perawatan yang sedang dilakukan, pemakaian power chain di seluruh behel pada awal-awal perawatan akan menyebabkan efek “roller coaster”. Efek “Roller Coaster” terjadi ketika power chain dipakaikan di seluruh behel dan digunakan pada saat pasien memakai kawat/ archwire yang kecil dan lentur. Kawat yang kecil dan lentur (biasanya terbuat dari bahan nikel-titanium) tidak memiliki kekuatan untuk tetap kaku ketika suatu gaya tarikan (misalkan: pemakaian power chain) diaplikasikan, sehingga yang terjadi adalah pergerakkan gigi yang tidak diinginkan yaitu gigi geraham besar/ molar miring kearah depan dan menjadi sedikit turun, gigi geraham besar miring ke depan, gigi taring miring ke arah belakang, sedangkan gigi depan miring ke arah belakang dan menjadi turun sehingga menghasilkan gigitan yang dalam/ deepbite. Jadi bila dilihat dari samping, bidang gigitan/occlusal plane gigi pasien terlihat naik turun seperti roller coaster. Untuk mencegah hal ini maka harus dihindari pemakaian power chain/ penarikan gigi pada saat pasien masih memakai kawat kecil dan lentur.

 

bidang-oklusal-naik-turun

Bidang oklusal naik turun seperti roller coster disertai gigitan dalam pada gigi depan (anterior deep bite) akibat pemakaian power chain yang tidak semestinya

 

Kurangnya informasi yang ada serta persepsi yang salah di masyarakat bahwa behel/ bracket serta karet yang menempel pada bracket hanyalah aksesori untuk fashion menjadikan pasien cenderung melupakan peran Orthodontist/ dokter gigi spesialis ortodonti itu sendiri. Orthodontist adalah seorang dokter gigi yang spesialisasinya adalah melakukan perawatan merapikan gigi. Jadi dalam prakteknya Orthodontist akan menggerakkan gigi ke posisi yang diinginkan tentunya pertama-tama dengan mempertimbangkan kesehatan gigi dan mulut pasien.

Mengapa ditekankan mengenai kesehatan gigi dan mulut? Karena pergerakkan gigi ke posisi tidak semestinya dan gaya tarikan yang terlalu besar dapat menyebabkan kerusakan pada tulang penyangga gigi/ jaringan periodontal, kerusakan mahkota gigi ataupun gangguan pada sendi rahang / sendi temporomandibular.

Tentunya seorang dokter gigi spesialis Ortodonti / Orthodontist memiliki pengetahuan biomekanika yang memadai sehingga mengetahui hal ini akan terjadi apabila powerchain dipakai dengan tidak semestinya.  Karena itu bila pasien meminta untuk memakai power chain dan dokter orto anda menolak, sekarang anda sudah tau penyebabnya yaa. Jadi sebagai kesimpulan, keputusan penggunaan komponen-komponen penggerak gigi dalam pemakaian behel sepenuhnya adalah di tangan dokter orto anda yang merawat, namun anda tetap diperbolehkan untuk memilih warna-warna yang anda inginkan dalam penggunaan karet yang ada.

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perawatan ortodonti, silakan hubungi kami:

Call: 0895-33428-7786

WA: 0821-2265-3850

Line: jbdental

More

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi / Kelainan Susunan Gigi

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi / Kelainan Susunan Gigi

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi Yang Perlu Diketahui

Maloklusi adalah suatu kelainan susunan gigi geligi baik atas atau bawah yang mempengaruhi bentuk rongga mulut dan fungsinya

Salah satu penyebab maloklusi / kelainan gigitan / kelainan susunan gigi adalah adanya kebiasaan buruk. Jadi meskipun seseorang tidak memiliki faktor keturunan/ genetik maloklusi yang didapatkan dari orangtuanya, ia dapat mengalami maloklusi yang disebabkan karena adanya kebiasaan yang berhubungan dengan area mulut (oral habit)

Oral habit ini adalah suatu perilaku yang normal pada bayi, biasanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya pada saat umur 3-4 tahun. Masalah oklusi akan terjadi bila kebiasaan ini terus berlangsung sampai anak memasuki usia sekolah dan orangtua kurang memperhatikan dan mengatasi kebiasaan ini.

Kebiasaan- kebiasaan ini bila dilakukan dalam frekuensi yang sering, dengan intensitas tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan berkembang menjadi suatu maloklusi yang parah seiring dengan berjalannya waktu.

Apa sajakah kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan maloklusi itu?

 

Bernafas melalui mulut (mouth breathing)

Seorang anak bernafas melalui mulut dapat disebabkan oleh 3 faktor, yaitu adanya sumbatan pada saat ingin bernafas melalui hidung ( misalkan adanya lendir di hidung saat flu), adanya hambatan dalam dari segi anatomi yang menyebabkan sulitnya bernafas melalui mulut (misalkan pembesaran adenoid, deviasi tulang septum hidung), dan yang terakhir adalah faktor kebiasaan, yaitu ketika faktor penyakit seperti adanya lendir serta masalah anatomi sudah diatasi, proses bernafas melalui mulut tetap terus berlanjut karena telah menjadi terbiasa dengan cara tersebut. Maloklusi yang terjadi berhubungan dengan kebiasaan ini adalah:

  • Kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak cenderung menyebabkan penyempitan lengkung rahang atas dan bentuk palatum yang dalam karena kurangnya stimulasi otot lidah pada area palatum. Lengkung rahang atas akan berbentuk V bukan bentuk normal U. Penyempitan lengkung rahang ini sering menyebabkan kurangnya area untuk tumbuhnya gigi tetap dan akhirnya menyebabkan gigi berjejal
  • Karena pada saat bernafas melalui mulut, bibir cenderung terbuka, maka tidak ada tahanan terhadapan gigi depan sehingga gigi depan menjadi maju
  • Openbite/ gigitan terbuka anterior/depan
  • Mulut menjadi kering sehingga rentan terjadinya karies/ gigi berlubang
kelainan gigi maloklusi

Lengkung rahang atas sempit dan berbentuk huruf ‘V’

 

kebiasaan bernafas melalui mulut

Profil wajah seorang anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut: wajah panjang, bibir atas pendek, bibir atas dan bawah tidak menutup pada saat posisi relaksasi, dagu mundur kebelakang

 

maloklusi gigi

Gambaran intraoral seseorang dengan kebiasaan bernafas melalui mulut: gigi depan maju, gigitan depan terbuka, gusi mengalami inflamasi karena tidak dilapisi air liur/ mulut kering

Menjulurkan lidah (tongue thrusting)

Adalah kebiasaan yang berhubungan dengan proses penelanan, dimana pada saat menelan, seorang anak mendorong lidahnya ke depan atau ke samping di antara gigi geligi. Tidak menutup kemungkinan juga kebiasaan ini dilakukan tidak pada saat menelan, namun pada saat-saat anak sedang bersantai.

Maloklusi yang berhubungan dengan kebiasaan ini adalah:

  • Gigitan terbuka anterior/depan (anterior openbite) atau gigitan terbuka posterior/belakang (posterior opebite) → hal ini tergantung bagaimana posisi lidah pada saat kebiasaan menjulurkan lidah berlangsung, apakah cenderung mendorong ke depan atau ke samping di antara gigi-geligi belakang.
  • Gigi depan atas dan bawah maju
  • Gigitan silang posterior/ belakang
kasus openbite

Openbite yang disebabkan kebiasaan menjulurkan lidah

Mengisap ibu jari (thumb sucking)

Mengisap ibu jari adalah kebiasaan yang dapat terjadi sejak seorang anak masih di dalam kandungan dan sering dijumpai pada bayi usia 1 sampai 2 tahun. Pada usia tersebut kebiasaan mengisap jari/ ibu jari masih bersifat tolerable (dapat ditoleransi), namun apabila kebiasaan ini berlangsung sampai usia 5 tahun atau lebih, dapat menyebabkan kelainan posisi gigi yaitu:

  • Gigi depan atas mengalami proklinasi/ miring ke arah depan
  • Gigi depan bawah mengalami retroklinasi/ miring ke arah belakang
  • Jarak gigitan (overjet) antara gigi depan atas terhadap bawah menjadi besar
  • Gigitan depan terbuka (anterior openbite)
  • Gigitan silang posterior/ sisi belakang (crossbite posterior) yang disebabkan karena menyempitnya lengkung rahang atas akibat tekanan dari otot orbikularis dan buccinator pada saat mengisap dengan intensitas yang tinggi
menghisap jari bikin kelainan gigi

Pada saat mengisap jari, cenderung terjadi tekanan ke depan pada gigi depan atas dan tekanan ke belakang pada gigi depan bawah.

 

Mengisap jari menimbulkan kelainan dalam arah sagital ( overjet/ jarak horizontal gigi atas terhadap bawah besar) , arah vertikal (gigitan depan terbuka/ anterior openbite), dan arah transversal ( crossbite posterior/ gigitan silang gigi belakang)

Mengisap jari menimbulkan kelainan dalam arah sagital ( overjet/ jarak horizontal gigi atas terhadap bawah besar) , arah vertikal (gigitan depan terbuka/ anterior openbite), dan arah transversal ( crossbite posterior/ gigitan silang gigi belakang)

Menggigit dan mengisap bibir (lip bitting &sucking)

Menggigit bibir adalah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan biasanya dilakukan pada bibir bawah. Kebiasaan ini akan menyebabkan:

  • Gigi depan atas bergerak maju ke depan/ protrusi
  • Gigi depan bawah miring ke belakang/ retrusi
  • Pertumbuhan rahang bawah ke depan terhambat
  • Pertumbuhan berlebih rahang atas ke depan
  • Gigitan terbuka/ anterior openbite
menggigit dan menghisap bibir

menggigit dan menghisap bibir

Tekanan yang diberikan pada permukaan dalam gigi depan atas ke arah luar menyebabkan gigi depan atas maju, gigi depan bawah mundur,overjet besar, pada kasus yang parah dapat menyebabkan pertumbuhan rahang bawah terhambat dan pertumbuhan rahang atas berlebih (sumber: slideshare.com)

 

Menggigit kuku (nail bitting)

Adalah kebiasaan yang berhubungan dengan ansietas/ kecemasan. Bila dilakukan dalam frekuensi yang sering dan intensitas yang tinggi akan menimbulkan maloklusi seperti:

  • Gigi berotasi/ berputar
  • Gigi berjejal
  • Gigi depan atas maju ke depan

Selain maloklusi kebiasaan ini juga dapat menyebabkan kerusakan gigi seperti kerusakan akar gigi, fraktur/ patah mahkota gigi

kebiasaan menggigit kuku

kebiasaan menggigit kuku

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kebiasaan –kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele dan tidak membahayakan, namun ternyata bila dilakukan terus menerus dan tidak dicegah dan diobati maka hasilnya akan menjadi maloklusi yang parah di kemudian hari.

Perlu diketahui, walaupun manifestasi maloklusi yang terjadi akibat kebiasaan buruk terlihat mirip antara satu dengan lainnya namun ternyata untuk penanganan dan pencegahannya berbeda. Karena kebiasaan buruk ini biasanya dimulai dari masa kanak-kanak dan apabila moms and dads kesulitan mencari penyebab maloklusi yang terjadi pada anak, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dini ke dokter spesialis ortodonti dengan segera ya.

More