All posts by Admin

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi / Kelainan Susunan Gigi

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi / Kelainan Susunan Gigi

Kebiasaan Buruk Penyebab Maloklusi Yang Perlu Diketahui

Maloklusi adalah suatu kelainan susunan gigi geligi baik atas atau bawah yang mempengaruhi bentuk rongga mulut dan fungsinya

Salah satu penyebab maloklusi / kelainan gigitan / kelainan susunan gigi adalah adanya kebiasaan buruk. Jadi meskipun seseorang tidak memiliki faktor keturunan/ genetik maloklusi yang didapatkan dari orangtuanya, ia dapat mengalami maloklusi yang disebabkan karena adanya kebiasaan yang berhubungan dengan area mulut (oral habit)

Oral habit ini adalah suatu perilaku yang normal pada bayi, biasanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya pada saat umur 3-4 tahun. Masalah oklusi akan terjadi bila kebiasaan ini terus berlangsung sampai anak memasuki usia sekolah dan orangtua kurang memperhatikan dan mengatasi kebiasaan ini.

Kebiasaan- kebiasaan ini bila dilakukan dalam frekuensi yang sering, dengan intensitas tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan berkembang menjadi suatu maloklusi yang parah seiring dengan berjalannya waktu.

Apa sajakah kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan maloklusi itu?

 

Bernafas melalui mulut (mouth breathing)

Seorang anak bernafas melalui mulut dapat disebabkan oleh 3 faktor, yaitu adanya sumbatan pada saat ingin bernafas melalui hidung ( misalkan adanya lendir di hidung saat flu), adanya hambatan dalam dari segi anatomi yang menyebabkan sulitnya bernafas melalui mulut (misalkan pembesaran adenoid, deviasi tulang septum hidung), dan yang terakhir adalah faktor kebiasaan, yaitu ketika faktor penyakit seperti adanya lendir serta masalah anatomi sudah diatasi, proses bernafas melalui mulut tetap terus berlanjut karena telah menjadi terbiasa dengan cara tersebut. Maloklusi yang terjadi berhubungan dengan kebiasaan ini adalah:

  • Kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak cenderung menyebabkan penyempitan lengkung rahang atas dan bentuk palatum yang dalam karena kurangnya stimulasi otot lidah pada area palatum. Lengkung rahang atas akan berbentuk V bukan bentuk normal U. Penyempitan lengkung rahang ini sering menyebabkan kurangnya area untuk tumbuhnya gigi tetap dan akhirnya menyebabkan gigi berjejal
  • Karena pada saat bernafas melalui mulut, bibir cenderung terbuka, maka tidak ada tahanan terhadapan gigi depan sehingga gigi depan menjadi maju
  • Openbite/ gigitan terbuka anterior/depan
  • Mulut menjadi kering sehingga rentan terjadinya karies/ gigi berlubang
kelainan gigi maloklusi

Lengkung rahang atas sempit dan berbentuk huruf ‘V’

 

kebiasaan bernafas melalui mulut

Profil wajah seorang anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut: wajah panjang, bibir atas pendek, bibir atas dan bawah tidak menutup pada saat posisi relaksasi, dagu mundur kebelakang

 

maloklusi gigi

Gambaran intraoral seseorang dengan kebiasaan bernafas melalui mulut: gigi depan maju, gigitan depan terbuka, gusi mengalami inflamasi karena tidak dilapisi air liur/ mulut kering

Menjulurkan lidah (tongue thrusting)

Adalah kebiasaan yang berhubungan dengan proses penelanan, dimana pada saat menelan, seorang anak mendorong lidahnya ke depan atau ke samping di antara gigi geligi. Tidak menutup kemungkinan juga kebiasaan ini dilakukan tidak pada saat menelan, namun pada saat-saat anak sedang bersantai.

Maloklusi yang berhubungan dengan kebiasaan ini adalah:

  • Gigitan terbuka anterior/depan (anterior openbite) atau gigitan terbuka posterior/belakang (posterior opebite) → hal ini tergantung bagaimana posisi lidah pada saat kebiasaan menjulurkan lidah berlangsung, apakah cenderung mendorong ke depan atau ke samping di antara gigi-geligi belakang.
  • Gigi depan atas dan bawah maju
  • Gigitan silang posterior/ belakang
kasus openbite

Openbite yang disebabkan kebiasaan menjulurkan lidah

Mengisap ibu jari (thumb sucking)

Mengisap ibu jari adalah kebiasaan yang dapat terjadi sejak seorang anak masih di dalam kandungan dan sering dijumpai pada bayi usia 1 sampai 2 tahun. Pada usia tersebut kebiasaan mengisap jari/ ibu jari masih bersifat tolerable (dapat ditoleransi), namun apabila kebiasaan ini berlangsung sampai usia 5 tahun atau lebih, dapat menyebabkan kelainan posisi gigi yaitu:

  • Gigi depan atas mengalami proklinasi/ miring ke arah depan
  • Gigi depan bawah mengalami retroklinasi/ miring ke arah belakang
  • Jarak gigitan (overjet) antara gigi depan atas terhadap bawah menjadi besar
  • Gigitan depan terbuka (anterior openbite)
  • Gigitan silang posterior/ sisi belakang (crossbite posterior) yang disebabkan karena menyempitnya lengkung rahang atas akibat tekanan dari otot orbikularis dan buccinator pada saat mengisap dengan intensitas yang tinggi
menghisap jari bikin kelainan gigi

Pada saat mengisap jari, cenderung terjadi tekanan ke depan pada gigi depan atas dan tekanan ke belakang pada gigi depan bawah.

 

Mengisap jari menimbulkan kelainan dalam arah sagital ( overjet/ jarak horizontal gigi atas terhadap bawah besar) , arah vertikal (gigitan depan terbuka/ anterior openbite), dan arah transversal ( crossbite posterior/ gigitan silang gigi belakang)

Mengisap jari menimbulkan kelainan dalam arah sagital ( overjet/ jarak horizontal gigi atas terhadap bawah besar) , arah vertikal (gigitan depan terbuka/ anterior openbite), dan arah transversal ( crossbite posterior/ gigitan silang gigi belakang)

Menggigit dan mengisap bibir (lip bitting &sucking)

Menggigit bibir adalah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan biasanya dilakukan pada bibir bawah. Kebiasaan ini akan menyebabkan:

  • Gigi depan atas bergerak maju ke depan/ protrusi
  • Gigi depan bawah miring ke belakang/ retrusi
  • Pertumbuhan rahang bawah ke depan terhambat
  • Pertumbuhan berlebih rahang atas ke depan
  • Gigitan terbuka/ anterior openbite
menggigit dan menghisap bibir

menggigit dan menghisap bibir

Tekanan yang diberikan pada permukaan dalam gigi depan atas ke arah luar menyebabkan gigi depan atas maju, gigi depan bawah mundur,overjet besar, pada kasus yang parah dapat menyebabkan pertumbuhan rahang bawah terhambat dan pertumbuhan rahang atas berlebih (sumber: slideshare.com)

 

Menggigit kuku (nail bitting)

Adalah kebiasaan yang berhubungan dengan ansietas/ kecemasan. Bila dilakukan dalam frekuensi yang sering dan intensitas yang tinggi akan menimbulkan maloklusi seperti:

  • Gigi berotasi/ berputar
  • Gigi berjejal
  • Gigi depan atas maju ke depan

Selain maloklusi kebiasaan ini juga dapat menyebabkan kerusakan gigi seperti kerusakan akar gigi, fraktur/ patah mahkota gigi

kebiasaan menggigit kuku

kebiasaan menggigit kuku

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kebiasaan –kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele dan tidak membahayakan, namun ternyata bila dilakukan terus menerus dan tidak dicegah dan diobati maka hasilnya akan menjadi maloklusi yang parah di kemudian hari.

Perlu diketahui, walaupun manifestasi maloklusi yang terjadi akibat kebiasaan buruk terlihat mirip antara satu dengan lainnya namun ternyata untuk penanganan dan pencegahannya berbeda. Karena kebiasaan buruk ini biasanya dimulai dari masa kanak-kanak dan apabila moms and dads kesulitan mencari penyebab maloklusi yang terjadi pada anak, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dini ke dokter spesialis ortodonti dengan segera ya.

More

Mitos Seputar Behel / Perawatan Orthodonti

Mitos Seputar Behel / Perawatan Orthodonti

Tidak dapat dipungkiri, penampilan yang menarik merupakan sesuatu yang menjadi sangat penting saat ini. Penampilan yang menarik merupakan salah satu hal yang menunjang dalam pekerjaan ataupun dalam kesuksesan hubungan sosial di masyarakat.

Dalam suatu survei yang dilakukan oleh American Academy of Cosmetic Dentistry, 17-23 Agustus, 2012 didapatkan 63% responden setuju bahwa penampilan seseorang dengan gigi berjejal terlihat kurang menarik dan menyebabkan rasa kurang percaya diri. Sehingga dapat dikatakan bahwa senyum yang indah dan gigi yang rapi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penampilan seseorang.

Karena alasan di atas, sekarang ini perawatan ortodonti/ behel menjadi perawatan yang banyak dicari dan tidak berlebihan jika dikatakan menjadi perawatan yang cukup umum dan sudah banyak diterima masyarakat. Terlepas dari banyaknya masyarakat memakai behel/ melakukan perawatan ortodonti, namun ternyata masih banyak persepsi yang salah mengenai perawatan orthodontik, dimana persepsi salah tersebut itu dipercaya dan akhirnya menjadi mitos yang beredar di masyarakat.

Apa saja mitos tersebut, berikut ini kami jabarkan beberapa diantaranya:

  1. Melakukan Perawatan Orthodonti/ Behel Berarti Harus Ada Gigi Yang Dicabut

Nyatanya setiap kasus pada kondisi pasien tidaklah sama dan bersifat unik, jadi tentunya rencana perawatan, perlu tidaknya pencabutan tidaklah sama. Perlu tidaknya pencabutan pada dasarnya ditentukan berdasarkan kasus yang ada. Jika ruang yang ada pada lengkung gigi pasien kurang dari ruangan yang diperlukan untuk menggerakkan gigi ke posisi yang diinginkan, maka ortodontis akan merencanakan untuk melakukan pencabutan. Keputusan pencabutan ini didasarkan dari analisa yang didapatkan dari pemeriksaan klinis, pemeriksaan model gigi pasien, serta foto rontgen yang ada. Beberapa kasus yang perlu dilakukan pencabutan misalkan pada kasus gigi maju yang cukup parah, kasus gigi berjejal yang parah, adanya gigi impaksi, pergeseran midline/garis tengah gigi yang cukup besar,dll. Sedangkan pada kasus gigi berjarak-jarak/ multiple diastema, gigi berjejal ringan atau bila ada sudah ada gigi yang hilang maka kemungkinan tidak perlu dilakukan pencabutan.

 

  1. Setiap kontrol behel harus dilepas

Behel atau bracket yang menempel pada gigi adalah bersifat fix atau tidak dilepas pasang. Sehingga pada saat kontrol bracket tidak perlu dilepas. Melainkan yang diganti adalah karet o-ring (pada bracket konvensional) serta pergantian kawat. Itulah mengapa chair time/ lamanya waktu perawatan pada saat kontrol lebih cepat pada saat pemasangan behel.

 

  1. Kawat behel harus diganti setiap kali kontrol

Dengan adanya perkembangan teknologi di bidang ortodonti, terutama material kawat gigi/ wire ortodonti yang dipakai sekarang , pergantian kawat tidak perlu dilakukan setiap kali kontrol. Hal ini dikarenakan kawat yang digunakan bersifat lentur dan tetap dapat berfungsi tanpa perlu dilakukan pergantian kawat baru. Selain itu pada saat kontrol ortodontis akan menilai progres perawatan. Apabila gigi belum bergerak sesuai dengan yang diharapkan, orthodontist mungkin akan memutuskan untuk tidak mengganti kawat untuk beberapa minggu selanjutnya.

 

  1. Pasien bisa memilih jenis karet yang digunakan apakah itu karet bersambung (power chain) atau karet satuan (o-ring)

Beberapa pasien menanyakan kapan mereka sudah bisa memakai power chain atau karet yang terlihat bersambung. Pemakaian power chain dan karet o-ring memiliki fungsinya sendiri-sendiri, sehingga ortodontis-lah yang akan menentukan kapan salah satu komponen tersebut akan dipakai. Pemakaian power chain/ karet bersambung yang tidak semestinya akan menyebabkan pergerakkan gigi yang tidak diinginkan. Walaupun pasien tidak bisa memilih jenis karet yang digunakan, tetapi pasien dapat memilih warna yang diinginkan sesuai dengan selera.

pasang behel berwarna di dokter gigi spesialis ortodonti

behel warna merah

 

  1. Untuk dapat merapikan gigi hanya perlu waktu beberapa minggu

Perlu diketahui bahwa pergerakkan gigi yang tertanam pada tulang penyangga gigi (alveolar) kita adalah melalui serangkaian proses histologi yang rumit yaitu terjadinya aposisi dan resorbsi pada tulang alveolar, sedemikian sehingga gigi dapat bergerak pada tulang yang padat. Pergerakkan gigi didalam tulang alveolar memerlukan waktu yang tidak sebentar karena besarnya gaya/ force yang diberikan untuk menggerakkan gigi juga harus ringan namun kontinu, supaya tidak merusak jaringan tulang penyangga gigi (alveolar) serta tidak menyebabkan resorbsi/ kerusakan akar gigi. Jadi bila ada klaim bahwa proses merapikan gigi dapat selesai hanya dalam beberapa minggu sebaiknya tidak mudah untuk dipercaya.

 

  1. Memakai behel berarti akan susah makan

Selama memakai behel pasien tetap dapat makan makanan apapun yang pasien mau, yang paling penting adalah pasien harus menjaga kebersihan giginya. Namun ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari dan ada beberapa penyesuaian dalam hal cara memakan makanan tertentu, misalkan sebaiknya menghindari mengunyah es, tulang, cangkang keras, memotong kecil-kecil dahulu buah dan sayur dengan konsistensi keras seperti apel, mengeluarkan bulir jagung sebelum memakan jagung.

 

  1. Perawatan orthodonti / behel akan menimbulkan sakit yang ekstrim dan berkepanjangan

Perawatan ortodonti tidak akan menyebabkan rasa sakit yang sangat ektrim, melainkan pasien mungkin akan merasakan ketidaknyamanan dan rasa bengkak yang ringan yang biasanya berlangsung hanya 5-7 hari saja setelah behel dipasang atau setelah kontrol/ aktivasi berkala. Adapun teknologi behel saat ini sudah memungkinkan penggunaan gaya/ force yang sangat ringan sehingga mengurangi rasa sakit secara signifikan.

pasang behel sakit

 

  1. Penyikatan gigi akan menjadi sulit

Penyikatan gigi tidak menjadi sulit, namun pasien harus memilih sikat gigi yang tepat, yaitu pasien harus memiliki 2 jenis sikat gigi. Yang pertama sikat gigi normal dengan bulu sikat yang lembut dan yang kedua adalah sikat interdental untuk menyikat area diantara dua bracket/braces. Selain memiliki sikat gigi yang tepat dan sesuai, pasien juga harus mengetahui teknik penyikatan gigi yang baik dengan braces.

cara sikat gigi buat pasien behel kawat gigi

cara sikat gigi buat gigi berkawat

 

  1. Behel/ braces hanya untuk anak-anak dan remaja

Braces/ behel tidak hanya dapat dipakai untuk merapikan gigi anak-anak dan remaja, namun juga dapat dipakai orang dewasa, selama jaringan periodontal ( gusi dan tulang) dalam keadaan baik dan sehat. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk melakukan perawatan ortodonti dengan braces.

 

Melalui penjelasan di atas, diharapkan sekarang anda tidak terjebak dengan mitos-mitos yang ada di atas yaa.

More

Pada Usia Anak Berapa Sebaiknya Mulai Dilakukan Perawatan Ortodonti?

“Dok, anak saya sudah bisa pakai behel atau belum ya?”

Pertanyaan ini seringkali ditanyakan oleh orangtua yang mengkhawatirkan kondisi susunan gigi geligi anaknya. Secara umum tidak ada usia yang ‘terbaik’ untuk mendapatkan perawatan ortodonti/behel. Hal ini bervariasi dari anak yang satu terhadap yang lain dan bergantung pada gangguan oklusi (maloklusi) yang terdapat pada tiap anak. Namun yang pasti, pemeriksaan dini oleh dokter spesialis ortodonti sangat dianjurkan untuk melihat apakah ada masalah/kelainan posisi gigi geligi atau tidak.

pada umur berapa sebaiknya dilakukan pemeriksaan/kunjungan pertama ke dokter gigi spesialis  ortodonti?

Pemeriksaan pertama sebaiknya dilakukan pada saat anak berusia antara 7-10tahun. Pada usia ini anak-anak berada pada periode gigi bercampur /mix dentition sehingga ortodontis dapat melihat apakah terdapat kelainan gigitan (maloklusi) yang sedang berkembang.

Seorang ortodontis memiliki ilmu dan pengalaman yang memadai untuk menilai apakah suatu kasus perlu segera dirawat supaya maloklusi yang ada tidak semakin bertambah parah, atau perlu menunggu , atau bahkan tidak perlu dirawat.

 

Apa tanda-tanda anak perlu perawatan ortodonti?

Setiap anak sebaiknya perlu dilakukan peemeriksaan, namun ada beberapa tanda yang menunjukkan seorang anak secara khusus akan diuntungkan dari pemeriksaan dini tersebut, yaitu:

  • hilangnya gigi susu sebelum usia 5 tahun
  • adanya kebiasaan-kebiasaan buruk/ bad habit seperti: mendengkur, bernafas melalui mulut, mengisap jempol
  • gigi depan maju
  • gigi berjejal/ berantakan
  • kesulitan pada saat menggigit atau mengunyah

contoh di atas hanya sedikit dari beberapa tanda anak yang memerlukan perawatan ortodonti. Tentunya perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter gigi spesialis ortodonti mengenai perlu atau tidaknya dilakukan perawatan ortodonti. Tetapi setidaknya dari tanda-tanda di atas dapat menjadi warning bagi anda bila menjumpai hal-hal tersebut pada anak-anak anda ya moms and dads.

 

Apa keuntungan memulai kunjungan atau perawatan ortodonti sejak dini?

Walaupun tidak semua kasus maloklusi perlu dirawat sejak dini, pada beberapa kasus yang memang memerlukan penanganan dengan segera, hal ini sangat menguntungkan dikarenakan:

  • Perawatan ortodonti dini dapat mencegah berkembangnya maloklusi/ gangguan oklusi yang lebih serius di kemudian hari. Perawatan ortodonti dapat membantu mempersiapkan ruangan untuk tumbuhnya gigi permanen/ gigi tetap sehingga dapat tumbuh di posisi yang benar misalnya dengan penggunaan space maintainer.
  • Memanfaatkan fase pertumbuhan anak dalam penanganan suatu kasus relasi rahang yang tidak normal. Misalkan pada kasus rahang bawah yang kurang berkembang, pasien anak-anak dalam masa pertumbuhan dapat diberikan alat myofunctional untuk meningkatkan pertumbuhan rahang bawah.
  • Mencegah trauma emosional misalkan pada kasus gigi depan yang maju atau berantakan. Anak terkadang suka menjadi bahan ejekan teman sepermainannya karena kondisi giginya yang maju atau berantakkan. Walaupun terdengar sepele, kadang hal ini seringkali menimbulkan trauma emosional bagi anak.
  • Mencegah trauma fisik.
  • Lebih mudah menjaga kebersihan gigi geligi /oral hygiene. Gigi yang berjejal cenderung mudah menjadi tempat menumpuknya sisa makanan dan plak yang sulit dibersihkan dengan penyikatan. Gigi yang rapi akan menjadikan proses penyikatan gigi lebih efektif.

 

Melalui penjelasan di atas kita dapat melihat pentingnya pemeriksaan dini anak ke Ortodontis. Jadi, jangan ragu untuk datang dan diperiksa ya.

More

Mengapa Gigi Saya Berjejal?

Mengapa Gigi Saya Berjejal?

Sekarang ini bila kita melihat di acara televisi atau majalah seringkali kita melihat senyum yang sempurna, dengan susunan gigi yang rata, rapi tanpa cela. Namun ternyata bila kita melihat kenyataan sehari-hari jarang sekali kita melihat seseorang dengan gigi yang rapi sempurna seperti itu, bahkan seringnya dengan gigi yang berjejal, bertumpuk tidak rapi.

Namun apakah yang menyebabkan gigi menjadi berjejal?

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan gigi tumbuh berjejal, berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Faktor Genetik

Genetik adalah penyebab paling banyak terjadinya gigi berjejal. Sama seperti warna kulit atau mata, rambut lurus atau keriting, ciri dan karakteristik tulang rahang dan gigi juga diturunkan dari orangtua kita.

pasien dengan gigi berjejal

pasien dengan gigi berjejal

Susunan gigi yang berjejal juga merupakan hal yang diturunkan. Misalkan jika seseorang memiliki ukuran tulang rahang yang terlalu kecil untuk “menampung” keseluruhan gigi geligi, maka gigi akan tumbuh berjejal karena kurangnya ruangan untuk dapat tumbuh dengan posisi yang benar. Hal yang sama juga dapat terjadi bila seseorang memiliki ukuran gigi yang relatif besar dibandingkan dengan ukuran tulang rahangnya.

pasien mesioden gigi berjejal

Pasien dengan mesioden (gigi berlebih di regio depan/ anterior). Pic Source: toothfulness.blogspot.co.id

Contoh lain adalah apabila seseorang memiliki gigi “extra”/ gigi berlebih (di luar dari 32 gigi) atau disebut supernumerary tooth, maka adanya gigi berlebih tersebut akan menyebabkan kurangnya ruangan untuk gigi-gigi lain bertumbuh dalam posisi yang benar.

 

  1. Kebiasaan buruk/bad habit

Beberapa kebiasaan buruk yang dimulai dari kecil juga akan memberikan efek buruk yang baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian.

 

anak-hisap-ibu-jari

Thumb sucking / kebiasaan mengisap ibu jari (pic source: sfgate.com)

Misalkan kebiasaan menghisap jari yang dilakukan bayi, bila kebiasaan ini terus berlanjut sampai fase anak-anak, maka ketika mereka bertambah besar,  gigi -gigi yang ada akan tumbuh menjadi berjejal, dengan disertai penyempitan lengkung rahang atas.

 

  1. Faktor lokal

Adanya trauma seperti benturan yang keras pada tulang rahang atau pada mulut dapat menyebabkan bergeraknya gigi dari posisi seharusnya.

 

Kurangnya pemeliharaan gigi mulai dari usia anak-anak (gigi susu) juga seringkali menjadi penyebab gigi berjejal. Bila seorang anak kehilangan gigi susu terlalu dini misalkan karena gigi tersebut rusak parah, maka gigi yang berdekatan dengan gigi yang hilang akan bergeser ke arah ruangan kosong tersebut, sehingga ruang untuk gigi permanan yang akan tumbuh akan berkurang dan akhirnya tumbuh tidak pada posisi yang benar. Karena itu merawat gigi mulai dari masa anak-anak sangat penting untuk mencegah terjadinya gigi berjejal pada saat gigi permanen tumbuh. Bila gigi susu harus dicabut/hilang terlalu dini, maka sebaiknya dibuatkan space maintainer  untuk mencegah pergeseran gigi yang tidak diinginkan.

Ilustrasi gigi susu yang rusak dan tidak dapat dipertahankan lagi kemudian dicabut jauh sebelum waktu gigi itu seharusnya tanggal. Ruangan yang ada untuk pertumbuhan gigi pengganti kemudian mengecil karena pergeseran gigi-gigi yang bersebelahan. Pada akhirnya gigi tetap/ gigi pengganti tumbuh pada posisi yang tidak benar.

Hal lain yang dapat menjadi faktor lokal adalah persistensi gigi susu yaitu gigi susu tidak kunjung copot/tanggal sehingga menyebabkan gigi permanen pengganti tidak dapat keluar pada posisi yang benar.

gigi-permanen-tumbuh-ke-belakang

Gigi permanen tumbuh lebih ke belakang karena gigi susu mengalami persistensi/ tidak tanggal pada waktunya

Pada banyak kasus gigi berjejal adalah bersifat genetik dan tidak dapat dihindari, namun dapat dirawat dengan perawatan ortodonti dengan behel/bracket. TETAPI untuk penyebab gigi berjejal yang berasal dari faktor kebiasaan buruk dan faktor lokal, maka kedua faktor tersebut dapat dihindari. Adalah peran orangtua terhadap anak-anaknya agar memelihara kesehatan gigi mulai dari fase gigi susu dan rutin memeriksakan gigi dan mulut anak ke dokter gigi sehingga pada saat dewasa, gigi mereka dapat tumbuh rapi dan tidak berjejal.

More

BEFORE AND AFTER – Foto SEBELUM dan SESUDAH Perawatan ORTODONTI

BEFORE AND AFTER – Foto SEBELUM dan SESUDAH Perawatan ORTODONTI

Susunan gigi yang baik dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang, memperbaiki penampilan dan
kesehatan gigi –mulut secara keseluruhan.
Berikut ini adalah beberapa contoh hasil perawatan ortodonti/ behel/ kawat gigi yang telah dilakukan di
klinik kami. Kami berharap melalui foto-foto ini anda dapat melihat hasil dan progress yang dapat
dicapai melalui perawatan ortodonti/ behel. Perawatan Ortodonti tidak hanya dapat merapikan gigi
namun juga mempengaruhi penampilan seseorang secara keseluruhan serta kesehatan dan fungsi gigi
dan mulut menjadi lebih baik.
(foto-foto ini adalah milik website kami, mengkopi diperbolehkan asalkan mencantumkan website kami
sebagai sumbernya)

Kasus Gigi Berjejal

Pasien wanita 16 tahun dengan keluhan gigi ‘bertumpuk’, setelah 8 bulan perawatan ortodonti gigi-
gigi yang berjejal/ bertumpuk sudah mulai berada di posisi yang benar. Perawatan ortodonti pada
foto di sisi sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien masih melanjutkan perawatan
ortodonti/behel.

pasien gigi berjejal

Pasien wanita 22 tahun dengan keluhan ‘gigi depan saya tumpang tindih dan agak maju sehingga
susah menutup mulut, gigi taring atas kanan saya agak keluar’. Setelah 11 bulan perawatan, gigi yang
bertumpang tindih sudah berada di posisi yang lebih baik, gigi depan sudah lebih mundur sehingga
pasien dapat menutup mulut dengan lebih baik. Perawatan ortodonti pada foto di sisi sebelah kanan
belum selesai, saat ini pasien masih melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

pasien gigi berjejal

 

Kasus multiple diastema (celah di beberapa gigi)

Pasien laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan “ gigi depan saya jarang-jarang/ berjarak”. Setelah
dilakukan perawatan ortodonti selama 8 bulan , gigi-gigi yang berjarak sudah rapat, demikian juga
dengan garis tengah / midline gigi atas dan bawah sudah sejajar. Perawatan ortodonti pada foto di sisi
sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien masih melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

celah di beberapa gigi multiple diastema

Kasus gigi depan maju (protrusive)

Pasien anak laki-laki usia 14 tahun dengan keluhan utama ‘gigi depan saya sangat maju dan posisi
kedua gigi taring atas saya sangat tinggi dbanding gigi seri ’. setelah 13 bulan perawatan ortodonti/
behel, gigi depan atas telah mundur ke posisi normal ( overjet 2mm) dan tumpang gigit (overbite)
2mm. Perawatan ortodonti pada foto di sisi sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien masih
melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

protrusive gigi depan maju

Pasien wanita usia 15 tahun dengan keluhan “ gigi depan atas saya sangat maju sehingga agak susah
menutup bibir “ . Setelah melakukan perawatan ortodonti/ behel selama 10 bulan gigi depan atas
sudah mundur ( jarak /overjet gigi depan atas terhadap bawah berkurang dari 10mm menjadi 2 mm)
dan pasien dapat menutup bibirnya dengan lebih baik. Profil pasien dari arah lateral/ samping juga
menjadi lebih baik. Perawatan ortodonti pada foto di sisi sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien
masih melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

gigi-depan-maju-protrusive

Kasus openbite (gigitan terbuka)

Pasien wanita usia 23 tahun dengan keluhan utama ‘ saya tidak dapat menggigit di gigi bagian depan. Saat gigi-gigi bagian belakang saya sudah berkontak maksimal, gigi depan saya tidak bertemu/berkontak. Setelah 15 bulan perawatan, jarak vertikal gigi depan atas terhadap bawah sudah berkurang dari overbite -3mm menjadi 1mm. Sekarang pasien sudah dapat menggigit menggunakan gigi depan bawah, dan pengucapan huruf konsonan seperti “S” atau “Z” yang tadinya pasien mengalami kesulitan, sekarang pasien sudah dapat mengucapkannya dengan lebih baik. Perawatan ortodonti pada foto di sisi sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien masih melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

open bite - gigitan terbuka

Gigi depan bawah maju (cameh)/ class III malocclusion

Pasien wanita 13 tahun dengan keluhan ‘cameh’ ( gigi depan bawah berada di depan gigi depan atas) sehingga bibir bawah terlihat lebih maju dari bibir atas. Setelah 15 bulan perawatan, gigi depan bawah sudah berada di belakang gigi depan atas dan profil bibir pasien terlihat lebih baik. Perawatan ortodonti pada foto di sisi sebelah kanan belum selesai, saat ini pasien masih melanjutkan perawatan ortodonti/behel.

gigi cameh

More